Disil stuffs

Review Buku Lintas Gelap

Sudah beberapa waktu yang lalu semenjak Aku membaca buku bertema petualangan. Tenggelam dengan dunia akademik di sekolah membuatku terlena dengan keberadaan buku fiksi non-pelajaran. Hal ini bisa dilihat dari menurunnya literasi & kualitas tulisan blogku. Setelah membaca buku ini, Aku jadi kepikiran untuk bikin ulasan tentang buku yang berjudul Lintas Gelap, buatan Tante Sari dari Cerivitas.

I hope reviewnya bagus, karena ini merupakan pertama kalinya Aku mengulas buku. Selamat membaca.

“Enam anak pramuka, dua kakak pembina, perjalanan pulang menembus gelap. Sebuah cerita tentang persahabatan, keluarga, dan perjuangan mencapai tujuan”. Itulah deskripsi buku ini, tertera pada halaman Google Play Books. Buku ini gratis, bisa di redeem secara free di halaman detail buku ini. Dengan tebal 288 halaman, buku ini cocok untuk dibaca ketika santai, karena tidak terlalu panjang.

Buku ini menceritakan tentang Regu Elang yang terdiri dari Ardi, Bakti, Bimo, Darma, Dwi, Saka, Satya, dan Wira dalam perjalanan pulang, dari perkemahan Pramuka Penggalang di Malang. Karena terjadi gempa besar, mobil milik Ayah Bakti yang digunakan untuk perjalanan pulang rusak parah, akibat tabrakan beruntun. Bencana ini merusak rencana perjalanan pulang mereka. Kejadian ini menjadi titik awal dimulainya petualangan Regu Elang menempuh berbagai macam cara untuk bisa kembali ke tempat asal mereka.

Setiap karakter memiliki sifat yang unik. Di buku ini kamu bisa melihat bagaimana seorang Dwi yang awalnya nekat untuk kabur mencari jalan pulangnya sendiri, akhirnya takjub dengan usaha rekannya yang senantiasa mencarinya ketika ia ‘hilang’ dari perkumpulan mereka walau menghadapi banyak tantangan. Dari ilustrasi yang diberikan, Dwi memang terlihat seperti nerd anak orang kaya, dan sesuai dengan ekspektasiku, sangat kritis & egois.

Teman akrab Dwi, yakni Bimo menunjukkan kepada pembaca bahwa dengan berusaha, kita akan mendapat hasil yang kita inginkan, meskipun kadang dibawah ekspektasi. Kemampuan multitalenta yang dimiliki Bimo membuatnya bisa mendapatkan uang dengan cara memainkan alat musik di pasar. Tak hanya itu, ia juga rajin melaksanakan ibadah, dan mungkin berkat doanya lah Regu Elang bisa kembali dengan selamat.

Perjuangan ini tak lepas dari peran Saka, sebagai ‘dokter’ dari regu ini. Di buku ini digambarkan bahwa Saka selalu siap sedia menolong temannya ketika tiba-tiba sakit. Maklum, berjalan kaki di bawah terik matahari & hujan serta kurangnya asupan makanan membuat tubuh teman-temannya menjadi lebih rentan terkena penyakit. Saka mengaku bahwa dia senang mengobati orang, jadi ya cocok.

Tokoh favorit saya di buku ini adalah Wira. Sebagai seseorang yang tidak memiliki banyak uang, namun cukup pandai dalam membaca arah perjalanan dan bahkan mengajar les di tempat tinggalnya, Wira mempunyai jiwa mengutamakan orang lain yang sedang dalam kesusahan. Hal ini terbukti dari keputusannya untuk memandu regu ke rumah keluarga Bimo di Purwokerto, ketika menyadari bahwa bekal mereka sudah tidak cukup untuk bisa melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Dalam kepulangan ini, Wira berbohong kepada ibunya mengenai ‘pulang lebih telat’ karena disuruh oleh Kak Bakti untuk beres-beres. Kenyataannya, ia hanya ingin beristirahat lebih lama dari rutinitas mengajar les dan mengurus adik-adiknya. Dia kapok bohong setelah kejadian ini xD

Adegan yang paling saya suka dari cerita ini adalah ketika Bimo memohon kepada pak polisi untuk membebaskan Kak Bakti dari tangkapan mereka, karena dituduh menyerang pendemo. Kemampuan Bimo merengek seperti “anak kecil yang kehilangan kakaknya” dalam dialog yang disajikan membuat saya tertawa, karena sebelumnya Bimo selalu digambarkan sebagai anak kalem ‘penyeimbang’ sikap keras kepala yang dimiliki oleh Dwi.

Di setiap awal bagian cerita disajikan quotes yang menarik. Yang paling saya suka adalah kutipan dari Bab 8 yaitu “Kadang orang lain memandang orang tua kita dan mempunyai harapan khusus pada kita sebagai anaknya. Kalau tidak ingin terjebak melakukan sesuatu karena ekspektasi orang, kita perlu membentuk gambaran dan ekspektasi pada diri sendiri”. Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Oleh karena itu, kita harus membuat persepsi & target kualitas rumput di rumah kita sendiri😅

Tentu saja setiap buku ada kelebihan dan kekurangannya. Pada bagian awal buku ini, alasan mereka batal mendaki Gunung Semeru tidak dijelaskan dengan baik. Selain itu, di bagian tengah, anggota regu yang sakit silih berganti, namun mereka sembuh dengan cepat. Padahal anggota regu tersebut kurang istirahat, kurang obat, serta memiliki tingkat stress yang tinggi. Di akhir cerita, ketika orang tua melihat anaknya yang sudah tidak pulang berminggu-minggu dan terkena bencana, mereka tidak terlihat kaget. Seolah-olah hal ini sudah sering terjadi sebelumnya.

Buku ini cocok untuk dibaca oleh remaja, karena memberikan edukasi tentang kerja sama dan kekompakkan tim. Hal tersebut diperlukan, apalagi ketika menghadapi situasi genting seperti yang mereka hadapi. Selain itu, buku ini mengajarkan kita untuk senantiasa mengatur waktu, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di hidup, yang bergerak seperti roda; kadang di atas, dan kadang di bawah.

Secara keseluruhan, saya menyukai buku ini. Mulai dari desain cover hingga ilustrasi wajah yang detail membuat saya bisa mengingat semua tokoh dan membedakan karakternya. Covernya cukup unik, karena cukup jarang ada buku yang memilih cover hitam putih. Buku ini tidak terlalu berat, jadi cocok untuk dibaca di waktu senggang.

Itulah ulasanku dari buku Lintas Gelap. Karena buku ini berseri, Aku akan membaca seri lanjutannya, serta cerita masing-masing tokoh. Thanks to Tante Sari for creating such a good book.

#review

- 0 toasts