Disil stuffs

The fall of bimbel

Bimbingan belajar semakin menjamur semenjak era pandemi Covid, dengan adanya istilah 'learning loss', alias kehilangan waktu belajar efektif selama Covid. Panen lah yang namanya bimbel offline, alias bimbel di tempat.

Ada juga bimbel online yang mengaku sebagai superapp, satu aplikasi untuk menunjang seluruh kebutuhan sekolah. Quite a fantastic concept, unfortunately memang belajar secara online/zoom itu (at least for me) is not reliable. Gada yang masuk, palingan hanya beberapa materi inti atau yang dijadikan tugas projek.

Ternyata mayoritas anak Indonesia juga mengalami experience yang sama dengan aku. Belajar online itu ndak masuk sama sekali. Waktu covid kerjaannya eat-tugas-sleep lalu repeat lagi. Untuk mensiasati hal tersebut, orang tua memasukkan anak ke les offline dengan harapan anaknya bisa dibimbing secara langsung, dan jika anak kesulitan, bisa langsung nanya ke coachnya.

Apalagi di sekitar tempat tinggal aku ini banyak yang ortunya (bapak & ibu) kerja di pabrik, sehingga full-day mereka bekerja, baru nyampe rumah jam 7 malam. Nggak mungkin bisa mengajari anak lagi kalo udah gitu.

At least di sekolah aku, yang menyediakan bimbel itu guru2. Jadi istilahnya guru mencari sampingan dengan membuka bimbel khusus mapel (maybe dengan bocoran soal, suudzon aja si :v).

Apa hubungannya dengan judul dari artikel ini? Well, aku memprediksi bimbel offline yang guru2 buat ini akan berkurang peminatnya (at least kegunaannya berkurang). Bimbel-bimbel tersebut mengiklankan diri sebagai 'sarana persiapan SBMPTN'. Say no more!

Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beberapa hari yang lalu mengubah peraturan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Jalur SNMPTN (jalur prestasi) syaratnya diubah, menjadi 50% rapot murni dan 50% sisanya complicated (i forgor💀). Nah... sementara itu di suatu dimensi lain jalur SBMPTN, Tes Potensi Akademik (TPA) dihilangkan, dan diubah menjadi full Tes Potensi Skolastik (TPS).

Yang membedakan antara TPA dengan TPS terletak pada konsepnya. Kalau TPA, itu lebih ke sisi akademik soal teknis (yang di dapat ketika SMA). Sementara itu jenis soal TPS lebih ke arah logika alias penerapan dari soal2 akademik yang pernah dikerjakan di jenjang SMA. Itu pengertian tingkat dasarnya ya, kalau mau nyari yang lebih detail, ada banyak di google :v

Maybe bimbel akan ganti fokus menjadi pelatihan TPM. Mereka juga perlu mengganti trik, karena banyak les lesan yang selama ini mengajar trik cepat dalam mengerjakan soal, tidak dengan pemahaman.

Sekarang bimbel dihadapkan dengan tantangan baru yakni mengajarkan logika2 yang sulit. Nadiem pun bilang bahwa soalnya memang beneran sulit.

So what? Kita lihat apakah bimbel bisa bertahan mengikuti perkembangan tes PTN yang berubah-ubah ini. Aku pun juga harus mengubah strategi masuk PTN impian xD

#sekolah

- 0 toasts