Disil's Stuff

Dari SD Sampai Pabrik

Saya masih ingat betul pembicaraan yang terjadi ketika saya duduk di bangku sekolah dasar kelas 6. Kala itu, saya dan teman sekelas sedang ditanya oleh Bu Guru. "Siapa disini yang mau kuliah?" ucap beliau. Kelas ramai dengan perkataan "saya bu!" sambil menampilkan wajah yang gemilang dan mata yang berbinar. Lalu ditanya, "nanti kalian setelah kuliah mau jadi apa??" "jadi polisi bu!", "jadi dosen bu!" dan lain sebagainya.

Lantas, apa komentar yang diberikan oleh guru saya itu? "Boleh saja kuliah jauh-jauh, cuma, ya ingat saja, disini pendidikan tinggi2 ujung2nya balik maning begawe di pabrik. Nyogok langsung gawe, sing penting ana modal. Lamun kuliah dulu yo kesuen, sela anyep baru mo begawe je." Kalimatnya memang tidak persis seperti itu, tapi intinya memberitahukan kepada anak2, buat apa kuliah tinggi-tinggi jika akhirnya juga menjadi buruh di pabrik.

foto sd citerep
Foto SDN Citerep, tempat saya bersekolah dulu

Sampai sekarang, kalimat tersebut masih sering menjumpai saya ketika diri ini sedang memikirkan masa depan. Saya ini, sebetulnya mau jadi apa sih? Saya ini, sebetulnya mau melakukan apa sih? Apakah hanya bermanfaat untuk diri sendiri saja, atau keluarga, atau seluruh umat manusia?

Jikalau saya ingin bermanfaat bagi semua orang, lantas bagaimana caranya? Apakah mesti menjadi seperti penemu, yang mana namanya dikenal dan diabadikan dalam sejarah dan juga ilmu sains. Apakah mesti menjadi pemimpin, yang namanya diabadikan dalam sejarah, either for better or worse. Atau, apakah harus menjadi dokter, yang memang tujuan pekerjaannya untuk membuat orang lekas sembuh.

Pertanyaan tadi, saya cari-cari, jawabannya memang tidak ada yang konkrit. Ada sebagian yang berpendapat, untuk jadi orang yang "pasti" bermanfaat bagi semua orang, jadilah guru, karena mereka yang mengajari generasi penerus agar menjadi insan yang lebih baik. Namun, setelah dipikir-pikir, kita semua sudah menjadi guru, kok. Misalnya, mengajari kawan ketika ia belum paham. Atau menjadi mentor dan konselor dadakan manakala teman/keluarga kita sedang kesulitan.

Sampai saya pada suatu kesimpulan yaitu "Mungkin jika ingin membantu orang banyak, dimulai dari lingkungan sekitar saya dulu". Akhirnya, saya mulai mengamati kegiatan tetangga. Mulai berdiskusi dengan bapak2 yang friendly. Dan saya simpulkan, masalah utama terletak pada pekerjaan mereka, yang mana mayoritas bekerja di pabrik.

Pabrik. Kenapa spesifik pabrik? Di tempat tinggal saya, yaitu Serang, kebanyakan yang bekerja itu kerjanya di pabrik sebagai buruh. Memang, jabatannya variatif, ada yang teknis dan ada yang manajerial. Namun, semua dari mereka beropini kurang lebih sama; Gawene akeh, gajine cilik. Memang itu masalah global, masalah sistem kapitalis. Sudah kodratnya akan terjadi seperti itu. Namun, perbedaannya terletak terutama pada buruh.

pekerja yang sedang memproduksi sepatu di salah satu pabrik di serang
Ilustrasi pabrik sepatu

Kita ambil contoh pabrik sepatu (Nik*mas). Jika bekerja disana, buruh harus berdiri terus menerus sambil mengerjakan pekerjaannya. Untuk izin buang air pun sulit, karena diwaktu. Pada akhirnya, banyak yang lebih memilih untuk menahannya sampai waktu istirahat. Ini tidak terjadi sekali saja, namun hampir setiap hari.

Efek jangka panjangnya? Sudah terlihat di tetangga saya. Baru umur 40an awal sudah susah mau berdiri duduk. Sakit lututnya. Bukan hanya ibu-ibu, bapak-bapak pun sama. Akhirnya? Berhenti kerja. Pengangguran, mencari rupiah kesana kemari. Untunglah bagi mereka yang sirkel pertemanannya luas. Apa kabar dengan yang kurang gaul? Yang ada malah menjadi beban keluarga karena penyakitnya.

Apalagi, kebanyakan dari mereka (khususnya para suami) merokok. Sudah ekonomi terpuruk, masih maksa merokok. Ya, saya paham memang, stres. Namun, terkadang tidak masuk akal prioritasnya. Mereka lebih rela anak mereka tidak beli seragam, daripada dia harus mengurangi konsumsi rokoknya. Miris memang, tapi, begitulah adanya.

data perokok terbanyak
Data perokok terbanyak per provinsi. Sumber: GoodReads

Belum kita berbicara soal hubungan mereka dengan anaknya. Bagi yang kerja hanya salah satu (bapak atau ibunya), itu adalah kondisi yang masih mending. Namun, kebetulan, di gang saya ini 2/3 yang bekerja itu, kedua2nya bekerja. Sehingga, anaknya dititipkan kepada tetangga lain yang di rumah (IRT). Memang ya bagus, dijagain. Namun ya itu, sering terjadi fitnah. Dan anak ya dibiarkan saja untuk melakukan apapun, tidak diberi pengayaan layaknya daycare. Tidak bisa disalahkan juga, karena ya itu opsi terbaik, mau daycare pun mahal.

Siklus ini berulang terus, generasi demi generasi. Ada memang, satu atau dua orang yang bisa breakout dari siklus itu. But for a lot of people, they don't. Mengikuti "aliran air" dari angkatan orang tuanya. Repeat, and repeat. Until god knows when.

Sometimes I'd imagine a world where those people don't have to bust their ass off at work. Kerja layaknya orang normal, bisa pulang dan menemani anak-anak mereka tumbuh dan berkembang (bonding). Bisa bergaul dengan tetangga, have fun, bahkan liburan sesekali keluar kota. Hal-hal kecil seperti itu, adalah momen yang tak akan bisa digantikan dengan uang sebanyak apapun.

Ya memang, akar dari masalah ini adalah sistemnya dan juga kebijakan pemerintah. Sudah jelas bahwa Indonesia Emas 2045 itu bukanlah sebuah momen yang patut dibanggakan. Jumlah peningkatan lapangan kerja tidak sebanding dengan jumlah peningkatan penduduk usia produktifnya. Kalau dibahas panjang lagi ini, dan, saya bukan ahlinya di bidang ini, jadi saya cukupkan disini.

Lantas, apa yang harus dilakukan? Saya pun juga belum tahu persis. Belakangan ini, saya sedang mencoba membaca apa saja sih permasalahan (terkait teknologi) yang dihadapi oleh tetangga saya. Ternyata, literasi. Literasi digital disini ada di level "scrolling tiktok". Yang mana jelas, jika dilakukan dalam jangka panjang akan menyebabkan efek samping yang masif. Dulu, anak tetangga suka bermain diluar dari pagi sampai sore hari, entah itu bersepeda, bermain masak2an, ataupun sekedar ngerumpi. Sekarang? Mereka memilih untuk stay dirumah masing-masing dan bermain hape.

Mari saya tutup pos ini dengan optimisme, bukan pesimisme. Faktanya, banyak kok dari kita yang sudah mulai melek teknologi. Berniaga dengan sesama, belajar dari youtube, dsb. Kita harus tetap optimis, karena, kalau bukan kita, siapa lagi? Siapa yang bisa membantu hidup2 mereka, kalau bukan kita, generasi muda yang berpendidikan tinggi? Minimal, mulai dari menyuarakan masalah ini dahulu. Siapa tau, pihak yang punya kewenangan tinggi sadar akan hal ini, dan melakukan perubahan sistem. Atau, ya paling tidak, meningkatkan awareness orang-orang terkait problematika kompleks ini. Dengan banyaknya orang yang sadar, akan ada banyak usulan, yang semoga bisa pelan-pelan memperbaiki semua masalah ini. Semoga, kedepannya, stigma SD-SMP-SMA-Kuliah-Pabrik bisa perlahan memudar, dan diganti dengan harapan akan masa depan yang lebih baik.


Komentar

#thoughts