Disil's Stuff

Di Antara Dua Dunia #1 - Matematika

Gw Kevin. Barusan banget masuk nih sekolah negeri. SMA 1 di daerah ini. Kenapa pindah dari swasta? Well, karena ya emang bokap gw pengen aja. Katanya swasta di sini udah nurun kualitasnya dan makin mahal. Ya memang mereka tajir, cuma rada pelit anjir, jujur dah. Gw mau main aja susah bener minta izinnya. Tapi yaudah lah ya, masa lalu ga usah dibicarakan.

"Kamu Kevin Alf-Alparo ya?" kata bapak tua yang ada di kantor ini. "Alvaro, pak. Pake V, bukan P". "Ya sama saja, dah, pokoknya kamu masuk ke kelas 11 IPA 2 ya, yang di ujung sana" ucap dia, sambil garuk2 pinggang. Terus kan gw jalan nih, eh banyak cewek natapin anjir. Tapi gw ya bodo amat.

Sesampainya di kelas

Ibu dengan paras gendut itu namanya adalah Bu Yanti. Wali kelas gw. Aduh ya tuhan, kelasnya ini penuh banget, masa katanya ini kelas yang paling sedikit siswanya? 30an lebih ini mah. Gw ngeliatin seisi kelas sambil gw masuk, buluk banget. Gaada AC, meleleh gw ini. Temboknya catnya ngelupas meletek2. Ih jiji banget pokoknya.

"Kamu duduk di samping Raka ya, disitu. Oh ya, sebelumnya coba perkenalkan diri dulu," ucap bu Yanti. "Baik ibu, terima kasih. Oke, sebelumnya selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya..."

And I blabbered about 5 minutes sebelum akhirnya disilahkan duduk. "Halo," ucap gw ke teman sebangku. Dia ga jawab. Ngangguk doang.

Sepanjang pelajaran, kerjaan gw merhatiin dia. Ni anak kenapa sih? Kok ketus amat. Kasian amat kayanya. Dari tadi dia merangkum pake pulpen yang tiap beberapa kata mesti ditiup. Itu mah udah abis namanya. "Lo mau pulpen gw gak?" tak tanya. Dia menggeleng. "Sayang ini masih ada isinya, bisa ditiup ini". Whatever la, sakarepmu wae.

Finally lunch time. Gw buka bekel gw yang udah dingin itu. Aduh lonyot lagi. Males jadinya. Nasinya benyek. Gw langsung mau buang itu sekotak-kotaknya. "EH-eh, Kevin, itu mau dikemanain?" ucapnya. "Mo dibuang, udah basi". "Eh- jangan ah, sayang kalau dibuang, sini coba dicium sama saya" katanya. "Apanya yang dicium?" ucap gw sambil keheranan. "Nasinya, mungkin cuma gara2 ditutup waktu kotaknya masih panas" ucapnya. Bahasanya pake Saya sama kamu, formal banget beuh.

Setelah diendus-endus sama dia, ia nyentuh tanganku. Wadidaw, kaget aku. "Nggak kok, nggak bau" ucapku sambil mengendus nasi dia. Malahan itu wangi menurut dia, karena nggak keras dan berbatu. Whatever la. Intinya gw buang karena udah eneg ngeliatnya.

Pelajaran kedua hari ini adalah matematika. Seneng banget sih, my favorite subject. Gampang, soalnya semua jawabannya udah pasti antara benar atau salah. Gak ada tuh jawaban 50/50, setengah salah setengah bener.

Nama pengajarnya adalah Bu Heni. Belum apa2 gw udah disuruh maju, langsung disuruh nyelesain persamaan kuadrat. Ya gampang lah, eh ternyata pada tepuk tangan. Gw balik ke tempet duduk.

"Baik anak-anak, hari ini kita melanjutkan pembelajaran kita mengenai persamaan kuadrat ya. Coba, buat mengingat kembali, mmm Raka, coba kamu jelaskan dong yang sudah Kevin jawab didepan".

"Oh- iya bu- iya" ucapnya seraya berdiri dan jalan ke depan. Baru sadar baju seragam putih abunya udah ga berwarna putih. Warna deterjen yang kuning itu. Lusuh lagi, ga disetrika. Dia mengambil spidol dan bergetar tangannya.

"Di-di sini saya akan menjelaskan jawaban yang diberikan Kevin" ucapnya. Geter anjir. Dianya bergetar. Keringatan. Dia berusaha sebisanya menjelaskan persamaan gw. Mana banyak langkah yang tak loncat lagi.

"-, sehingga pas difaktorkan akan menjadi (x-4)(x-2)" ucapnya. Terus bu heni tiba2 mendekat dan menghapus persamaan kuadrat awalnya, sambil berkata "Oke, dari tadi saya liat kamu cuma baca aja ya, coba sekarang kalikan lagi ya faktor2nya".

Raka terdiam. Dalam hati, gw udah teriak2. "GAMPANG BANGET ITU JAWABANNYA, TINGGAL X DIKALI X, X DIKALI -2, -4 DIKALI X, SAMA -4 DIKALI -2". Dia gak bisa.

Ada kali, sekitar 5 menitan diam aja dia, sambil dimarahin bu heni. "Gimana kamu pas udah besar nanti, mau jadi apa? 4 dikali 2 aja gak bisa. Sini, HADAP IBU, ngomong, mau jadi apa??" ucapnya sambil melotot ke Raka. Beberapa anak mulai tertawa. Tapi gw kasian. Tertegun, melihat mukanya yang melas itu.

"Mau- mau jadi pengusaha bu".


Cerita ini adalah cerita sambung dalam seri "Di Antara Dua Dunia". Sampai sini dulu ya cerita hari ini. See you in the next episode, bye.


Disil's Stuff by Satria N. is licensed under CC BY-NC 4.0

#story